(0271) 714568
keclawe123@surakarta.go.id

Admin Kecamatan Laweyan

12-11-2025

 10:10:52 WIB
LAWEYAN GUMBREGAH “Laweyan Guyub mBrantas Kemiskinan lan Nggayuh Raharja”
Icon

Talkshow Laweyan Gumregah “Laweyan Guyub mBrantas Kemiskinan lan Nggayuh Raharja

Kecamatan Laweyan menyelenggarakan kegiatan Talkshow Laweyan Gumregah “Laweyan Guyub mBrantas Kemiskinan lan Nggayuh Raharja” pada Selasa, 11 November 2025 di Pendopo Kecamatan Laweyan. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh Ketua RW se-Kecamatan Laweyan dan bertujuan untuk memperkuat peran masyarakat dalam mendukung program prioritas Pemerintah Kota Surakarta dalam menurunkan angka kemiskinan.Wali Kota Surakarta hadir memberikan arahan dan menjelaskan berbagai program unggulan Pemkot Solo dalam menurunkan kemiskinan, seperti Rumah Siap Kerja, Koperasi Merah Putih, Posyandu Plus 6 SPM, serta pendataan penduduk miskin berbasis Data Terpadu Sosial Ekonomi (DTSE). Program-program ini menjadi strategi terpadu untuk memastikan warga miskin mendapatkan akses pekerjaan, layanan kesehatan, dan perlindungan sosial yang lebih adil.Melalui semangat Laweyan Gumregah, diharapkan sinergi antara pemerintah dan masyarakat terus tumbuh, mewujudkan Laweyan Guyub, Surakarta Sejahtera

Walikota Surakarta Respati Ahmad Ardianto Serap Aspirasi Warga Laweyan dalam Dialog “Laweyan Gumbregah”


Surakarta - Suasana hangat namun sarat makna menyelimuti pendopo Kecamatan Laweyan pada malam hari itu. Ratusan warga dari berbagai kelurahan di Kecamatan Laweyan hadir dalam acara “Dialog Laweyan Gumbregah”, sebuah forum tatap muka antara masyarakat dan Pemerintah Kota Surakarta yang dipimpin langsung oleh Wali Kota Respati Ahmad Ardianto. 11/11

Dalam sambutannya, Wali Kota Respati menegaskan bahwa arah pembangunan Kota Surakarta dijalankan dengan pendekatan “bottom-up”, bukan “top-down”. Ia menegaskan pentingnya partisipasi masyarakat dalam menyusun kebijakan agar pembangunan benar-benar menyentuh kebutuhan warga.

“Saya itu bottom-up, bukan top-down. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Semua harus berangkat dari suara rakyat,” tegas Respati, disambut tepuk tangan warga yang memadati pendopo.

Wali kota muda ini kemudian memaparkan empat indikator utama pembangunan yang menjadi fokus kebijakan Kota Surakarta tahun depan, yakni tingkat pengangguran terbuka, angka kemiskinan, indeks pembangunan manusia (IPM), dan pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, seluruh perencanaan dan penganggaran daerah harus berbasis pada empat indikator ini agar hasil pembangunan bisa terukur dan berdampak langsung bagi kesejahteraan warga.

Beberapa program unggulan yang disampaikan meliputi Rumah Siap Kerja, UMKM Center, Posyandu Plus, serta optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pemberdayaan masyarakat. Wali kota juga menyoroti tantangan bonus demografi 2030 yang akan menghadirkan banyak tenaga muda.

“Kalau tidak kita siapkan dari sekarang, angka kemiskinan dan kriminalitas bisa naik. Anak-anak muda harus disiapkan dengan keterampilan kerja. Maka Rumah Siap Kerja dan Solo Technopark harus jadi wadah nyata bagi mereka,” ujarnya.

Dalam sesi dialog, Respati juga menyoroti persoalan menurunnya keterlibatan remaja di masjid dan kegiatan sosial, yang ia nilai sebagai cerminan perubahan zaman yang serba instan. Ia mendorong para tokoh agama dan marbot untuk berinovasi dalam dakwah agar lebih dekat dengan generasi muda.

Selain itu, Wali Kota juga menjelaskan konsep Posyandu Plus sebagai bentuk layanan terpadu yang tidak hanya berfokus pada kesehatan fisik, tetapi juga pada kesehatan mental dan sosial masyarakat. Posyandu kini diintegrasikan dengan layanan psikolog, pelatihan kewirausahaan, hingga kanal pengaduan warga.

“Posyandu bukan sekadar timbang bayi, tapi tempat masyarakat mengadu dan mencari solusi. Ada tambahan psikolog, pelatihan, sampai pelayanan publik lintas OPD,” jelasnya.

Respati juga memaparkan program Koperasi Merah Putih, sebuah model ekonomi kerakyatan di tingkat kelurahan yang dirancang untuk memperkuat daya saing UMKM. Koperasi ini bukan berorientasi pada simpan pinjam, melainkan pada pengelolaan usaha produktif yang disesuaikan dengan potensi lokal — mulai dari jasa servis hingga penyewaan alat pesta.

“Koperasi Merah Putih tidak akan jalan kalau tidak bekerja. Ini wadah ekonomi warga, bukan proyek. Nanti subsidi gas LPG dan program barang bersubsidi pun akan disalurkan lewat koperasi ini,” ujar Respati.

Dalam sesi tanya jawab, sejumlah warga menyampaikan beragam aspirasi, mulai dari keterlibatan guru TPA dan kegiatan remaja masjid, pemerataan hasil Musrenbang, hingga tantangan pelaku UMKM yang terdampak kondisi ekonomi.

Menanggapi hal tersebut, Respati berkomitmen untuk memperkuat koordinasi lintas dinas dan memastikan setiap usulan Musrenbang benar-benar diterjemahkan menjadi program nyata. Ia juga menegaskan bahwa pemerataan pembangunan akan menjadi prioritas, termasuk penyelenggaraan event budaya di setiap kelurahan guna menggerakkan ekonomi lokal.

 “Tidak boleh hanya satu wilayah yang dirasakan. Setiap kelurahan harus punya kegiatan, punya panggung budaya, supaya ekonomi warga bergerak,” tegasnya.

Dialog kemudian berlanjut dengan penyampaian aspirasi dari warga Panularan, Purwosari, termasuk permasalahan warga yang bermukim di atas lahan milik PT KAI. Menanggapi hal itu, Respati menjelaskan bahwa Pemkot akan berkoordinasi dengan PT KAI untuk mencari solusi terbaik tanpa penggusuran, melalui pendekatan relokasi sukarela dan program hunian bersubsidi.

Acara “Laweyan Gumbregah” malam itu berlangsung dinamis dan penuh keakraban. Warga tidak hanya menyampaikan keluhan, tetapi juga berdiskusi langsung mencari solusi bersama pemerintah.

Menutup dialog, Wali Kota Respati menegaskan kembali bahwa perubahan besar tidak lahir dari instruksi, tetapi dari gerakan bersama antara pemerintah dan rakyat.

“Solo ini tidak bisa dibangun hanya dari kantor Balai Kota. Solo dibangun dari pendopo-pendopo seperti ini, dari ide, kritik, dan semangat warga Laweyan yang gumbregah,” pungkasnya.

Daftar Informasi